Thursday, 20 February 2014

PSIKOLOGI LISAN - WADAH ISLAMI.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar berita yang tidak jelas asal-usulnya. Kadang kadang isu kecil di perbesarkan dalam berita yang di edarkan atau sebaliknya. Kadang kadang berita itu berkait dengan kehormatan seseorang muslim. Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang belum tahu kebenarannya dan bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya?
Dalam naskah berikut ini, penulis menjelaskan kepada kita, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu.
Allah berfirman, maksudnya:-

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman percaya kepada berita angin. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita itu benar, dan juga tidak semua berita yang disampaikan ada faktanya. Ingatlah, musuh-musuh kamu senantiasa mencari kesempatan untuk menjatuhkan kamu. Maka wajib atas kamu untuk selalu berwaspada, hingga kamu boleh kenal pasti orang yang hendak menyebarkan berita yang tidak benar.

Allah berfirman, maksudnya:-

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”

Maksudnya, janganlah kamu menerima (begitu saja) berita dari orang fasik, sebelum kamu periksa, teliti dan mendapatkan bukti kebenaran nya.
(Dalam ayat ini) Allah memberitahu, bahwa orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta, akan tetapi kadang kala ia juga benar. Karena, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka ditolak.
Kemudian Allah menyebutkan illat (sebab) perintah untuk meneliti dan larangan untuk mempercayai berita-berita tersebut. Allah berfirman.
“Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya”.
Kemudian nampak bagi kamu kesalahanmu dan kebersihan mereka.
“Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [Al Hujurat : 6]
Terutama jika berita tersebut boleh menyebabkan punggungmu kena rotan. Maksudnya isu yang kamu bicarakan boleh mengkibatkan kamu kena hukum had, seperti qadzaf (menuduh) dan yang sejenisnya.
Sesungguhnya semua kaum muslimin perlu menghayati ayat ini, untuk di baca dan renungi, lalu beradab dengan adab yang ada padanya. Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong yang disebarkan orang fasiq yang jahat! Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyak, akibat berita yang tidak benar! Berita yang dibuat oleh para musuh Islam. Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan persatuan umat Islam , dengan menyemarakkan dan mengobarkan api permusuhan diantara umat Islam.
Betapa banyak dua saudara, berpisah disebabkan berita bohong! Betapa banyak suami-isteri berpisah karena berita yang tidak benar! Betapa banyak bangsa bangsa, dan kumpulan kumpulan, parti parti,jemaah jemaah dan negara negara saling memerangi, karena tertipu dengan berita bohong!
Allah Azza wa Jalla Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui, telah meletakkan satu kaedah bagi umat ini untuk memelihara mereka dari perpecahan, dan membentengi mereka dari pertikaian, juga untuk memelihara mereka dari api fitnah.
Tetapi sayang tidak ada satu pun masyarakat muslim yang bebas dari orang-orang munafiq yang memendam kedengkian. Mereka tidak senang melihat kaum muslimin berbaik baik menjadi masyarakat yang bersatu dan bersaudara.
Wajib atas kaum muslimin untuk berhati hati dan berwaspada dengan musuh-musuh mereka. Dan hendaklah kaum muslimin mengetahui, bahwa para musuh mereka tidak pernah tidur (tidak pernah berhenti) merancang tipu daya terhadap kaum muslimin. Maka wajiblah atas mereka untuk senantiasa waspada, sehingga boleh mengetahui sumber kebencian, dan bagaimana rasa saling permusuhan dikobarkan oleh para musuh.
Sesungguhnya keberadaan orang-orang munafiq di tengah kaum muslimin dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar. Akan tetapi yang lebih berbahaya, ialah keberadaan orang-orang mukmin berhati baik yang selalu menerima berita yang dibawakan orang-orang munafiq. Mereka membuka telinga lebar-lebar mendengarkan semua ucapan orang munafiq, lalu mereka berkata dan bertindak sesuai dengan berita itu. Mereka tidak peduli dengan bencana yang bakal menimpa kaum muslimin akibat percaya kepada orang munafiq.
Al Qur’an telah mencatatkan buat kita satu bencana yang pernah menimpa kaum muslimin, akibat dari sebagian kaum muslimin yang mengikuti orang-orang munafiq yang dengki, sehingga boleh mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang sebelum kita.
Bacalah Surat An Nur dan renungilah ayat-ayat penuh barakah yang Allah ucapkan tentang kebersihan Ummul Mukminin ‘Aisyah x dari tuduhan kaum munafiq. Kemudian sebagian kaum muslimin yang jujur terikut ikut menuduh tanpa meneliti bukti-buktinya. Allah berfirman.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. [An Nur : 11].
Ifki maksudnya ialah berita bohong. Dan ini merupakan kebohongan yang paling jelek.
“Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu”. [An Nur : 11].
Tidak semua perkara-perkara itu boleh dinilai hanya melalui zahirnya saja. Karena terkadang kebaikan atau nikmat itu datang dalam satu bentuk yang kelihatannya menyusahkan. Diantara kebaikan (yang dijanjikan Allah buat keluarga Abu Bakar), ialah Allah menyebut mereka di malail a’la. Dan Allah menurunkan beberapa ayat yang boleh dibaca mengenai keadaan (keluarga Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu).
Dengan turunnya ayat ini, maka hilanglah mendung dan tersingkaplah kegelapan itu. Lenyap sudah gunung kepedihan yang berlegar dalam kalbu Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, suaminya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ayahandanya. Sebagaimana juga hilangnya kepedihan si penuduh, iaitu seorang shahabat yang jujur Shafwan bin Mu’atthil.
Kemudian ayat selanjutnya mengajarkan kepada kaum mukminin, bagaimana menyikapi berita. Allah berfirman.
“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:”Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [An Nur : 12].
Wahai kaum msulimin, inilah langkah pertama yang harus engkau lakukan, jika ada berita buruk tentang saudaramu, yaitu berhusnuhan (berperasangka baik) kepada dirimu. Jika engkau sudah husnuzhan kepada dirimu, maka selanjutnya kamu wajib husnuzhan kepada saudaramu dan (menyakini) kebersihannya dari cela yang disampaikan. Dan engkau katakan,
“Maha Suci Engkau (Allah) , ini merupakan kedustaan yang besar”. [An Nur : 16].
Inilah yang dilakukan oleh sebagian shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sampai berita kepada mereka tentang Ummul Mukminin.
Diceritakan dari Abu Ayyub, bahwa istrinya berkata,”Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan banyak orang tentang Aisyah?” Abu Ayyub menjawab,”Ya. Itu adalah berita bohong. Apakah engkau melakukan perbuatan itu (zina), hai Ummu Ayyub? Ummu Ayyub menjawab,”Tidak. Demi Allah, saya tidak melakukan perbuatan itu.” Abu Ayyub berkata,”Demi Allah, A’isyah itu lebih baik dibanding kamu.”
Kemudian Allah berfirman.
“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta”. [An Nur : 13].
Inilah langkah yang kedua, jika ada berita tentang saudaranya. Langkah pertama, mencari dalil yang bersifat batin, maksudnya berhusnuzhan kepada saudaranya.
Langkah kedua mencari bukti nyata.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”. [Al Hujurat : 6].
Maksudnya mintalah bukti kebenaran suatu berita dari si pembawa berita. Jika ia boleh mendatangkan buktinya, maka terimalah. Jika ia tidak boleh membuktikan, maka tolaklah berita itu di depannya; karena ia seorang pendusta. Dan cegahlah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali. Dengan demikian, berita itu akan mati dan terkubur di dalam dada pembawanya ketika kehilangan orang-orang yang mau mengambil dan menerimanya.
Seperti inilah Al Qur’an mendidik umatnya. Namun sayang sekali , banyak kaum muslimin yang tidak konsisten dengan pendidikan ini. Sehingga jika ada seorang munafik yang menyebarkan berita bohong, maka berita itu akan segera disebarkan di masyarakat samada melalui percakapan atau melalui media termasuk melalui internet tanpa periksa dan meniliti kebenarannya. Dalam hal ini Allah berfirman.
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut”.[An Nur : 15].
Pada dasarnya ucapan itu diterima dengan telinga, bukan dengan lisan. Akan tetapi Allah ungkapkan tentang cepatnya berita itu tersebar di tengah masyarakat. Seakan-akan kata-kata itu keluar dari mulut ke mulut tanpa melalui telinga, dilanjutkan ke hati yang memikirkan apa yang didengar, selanjutnya memutuskan boleh atau tidak berita itu disebar luaskan.
“Kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”. [An Nur : 15].
Allah mendidik kaum mukminin dengan adab ini. Mengajarkan kepada mereka cara menghadapi berita serta cara membanterasnya, sehingga tidak tersebar di masyarakat. Setelah itu Allah mengingatkan kaum mukminin, agar tidak membicarakan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Allah juga mengingatkan mereka, agar tidak menyertai bantu para pendusta penyebar berita bohong. Allah berfirman.
“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman”. [An Nur : 17].
Kemudian Allah menjelaskan, membantu para pendusta bererti mengikuti langkah-langkah syaitan. Allah berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar”. [An Nur : 21].
Dalam ayat selanjutnya Allah menerangkan, lisan dan semua anggota badan lainnya akan memberikan kesaksian atas seorang hamba pada hari kiamat. Allah berfirman.
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Pada hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka, bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)”. [An Nur 23-25].
Wahai para penyebar berita palsu (fitnah)! Wahai para pendusta! Hai orang yang tidak senang melihat orang mukmin saling berbaik baik sehingga dipisahkan! Hai orang yang tidak suka melihat kaum mukmin aman! Hai para pencari aib orang yang baik! Tahanlah lidahmu, karena sesungguhnya kamu akan diminta pertanggungjawaban kata-kata yang engkau ucapkan. Allah berfirman.
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”. [Qaf : 18].
Tahanlah lidahmu! Jauhilah perbuatan bohong dan janganlah menyebar fitnah! Janganlah menuduh kaum muslimin tanpa bukti, dan janganlah berburuk sangka kepada mereka! Seakan-akan aku dengan engkau, wahai saudaraku, berada pada hari kiamat; hari kerugian dan hari penyesalan. Sementara para seterumu merebutmu. Yang ini mengatakan “engkau telah menzalimiku”, yang lain mengatakan “engkau telah menfitnahku”, yang lain lagi mengatakan, “engkau telah mengaibkanku”. Sementara engkau tidak mampu menghadapi mereka. Engkau mengharap kepada Rabb-mu agar menyelamatkanmu dari mereka, namun tiba-tiba engkau mendengar.
Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. [Al Mukmin : 17].
Lalu engkaupun menjadi yakin dengan neraka. Engkau ingat firman Allah.

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak” [Ibrahim : 42].

Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan. Dan semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya.

Friday, 14 February 2014

Hasbunallah wanikmal wakil



Ketika kaki tersesat tak tentu arah
Ketika bahu melemah tiada sandaran
Ketika hati perih tiada pengubat

 Hasbunallah wanikmal wakil
Cukuplah Allah Menjadi Penolong Kami

 La Tahzan Innallaha Ma'ana
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita

 Innallaha ma'asshobirin
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar

~Jangan pernah mengira kita sempurna dalam bersendirian, kerana Allah akan senantiasa ada, menjadi petunjuk, penenang, tempat bersandar, pengubat luka..

KERANAMU



Bila kuimbas lagi 
Terusik peristiwa dulu yang mengguris hati 
Terkulai-kulai diri bila cinta didustai 
Oleh insan yang pertama aku sayangi 

Bila aku kenangi 
Hidupku tak lagi ceria seperti dahulu 
Tiada lagi keindahan yang aku rasai 
Ohh... selama ini teguhnya cintaku 
Pada mu kekasih 

Oh oh oh... 
Tidak ku menjangkakan ini 'kan terjadi 
Bila sidia undur diri dan memutus cinta 
Alam kurasakan suram 
Tiada lagi beri simpati 

Oh oh oh... 
Ternyata kejujuran salah ditafsirkan 
Rupa-rupanya di hatimu dia yang bertakhta 
Mengikis semarak cinta yang telah kita bena 
Seindahnya di syurga 

Kekasih... 
Kita berdua menjalin kasih 
Yang akhirnya terpisah jua 
Ku rela kau pergi 

Friday, 7 February 2014

JANJI

Nabi Muhammad SAW telah mengajar ummatnya agar sentiasa memperlihatkan kematangan dalam segenap tindak-tanduk, ini termasuk cara penampilan diri, cara bermuamalah, berpendidikan, berkeluarga, berpolitik, berekonomi, berjiran, bersahabat, tidak kurang juga pengamalan kepada akhlak-akhlak terpuji seperti menepati janji.

Ini kerana orang yang memungkiri janji termasuk dalam katogeri manusia yang dilabelkan sebagai talam dua muka, tindakan itu dilarang keras oleh baginda Rasulullah s.a.w., justeru mereka yang terbabit dalam kategori ini jelas disebut sebagai golongan munafik, wal 'iyazu billah.

Ia sebagaimana sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: Empat ciri jika seorang Muslim itu memilikinya, maka dia menjadi seorang munafik tegar melainkan selepas itu dia meninggalkannya: "Jika diberikan sesuatu amanah dia cabulinya, jika dia bercakap dia berdusta, jika dia berjanji dia memungkirinya dan jika dia bertelingkah dia celupar."

Jelas daripada apa yang ditegaskan Nabi melalui hadis tersebut di atas, membayangkan kepada kita betapa memungkiri janji adalah satu perbuatan negatif yang melayakkan seseorang Muslim itu digelar munafik, apa yang membimbangkan kita ialah golongan munafik ditempatkan Allah di bawah sekali dalam api neraka, tempat yang paling dekat dengan api yang membakar.

Sesungguhnya apabila seseorang Muslim itu mampu menunaikan sesuatu janji terhadap saudara Muslimnya yang lain, maka sebenarnya dia telah melakukan satu tuntutan agama yang amat besar dalam hidupnya, malah dia berhak mendapat naungan daripada Allah dalam segenap aktiviti kehidupan hariannya sebagai Muslim yang baik.

Bagi membuktikan kesahihan kenyataan di atas, berikut disebut satu kisah benar berhubung nilai seseorang Muslim yang berusaha untuk menunaikan janjinya seperti yang disebut oleh Syeikh Taha Abdullah al-'Afifi dalam kitabnya 'Wasiat-wasiat Rasulullah':

Terdapat seorang lelaki beriman pada zaman silam yang amat memerlukan wang untuk berbelanja dan mahu meminjam sejumlah wang daripada orang lain, namun si pemiutang tidak dapat membawa seorang saksi dalam urusan peminjaman wang. Walau bagaimanapun pemberi hutang itu reda dan sedia untuk memberikan sejumlah wang yang diminta dan berkata bahawa cukuplah Allah sebagai saksi.

Dengan niat yang baik kerana Allah, pemiutang berjanji pada dirinya sendiri akan membayar hutang-hutangnya bila ada wang yang mencukupi untuk berbuat demikian, niat baiknya itu dibantu Allah dan memperkasa dirinya untuk sedia membayar.

Dengan niat baik untuk membayar, maka Allah SWT memudahkan urusannya berbuat demikian, satu hari dia bertekad untuk bertemu dengan pemberi hutang bagi melunaskan segala hutangnya, tiba-tiba takdir Allah mengatasi segala-segalanya, jambatan yang menghubungkan dua kampung dan memisahkan antara pemiutang dan pemberi hutang roboh akibat banjir besar, kerana takut jika dia (pemiutang) tidak menunaikan janji, maka dia telah meletakkan sejumlah wang yang dipinjam dahulu dalam sebatang kayu berlubang dan tertulis padanya daripada pemiutang kepada pemberi hutang, kayu itu pun dihanyutkan ke dalam sungai dan dia terus berdoa semoga hutang-hutang yang dilunaskannya diselamatkan Allah.

Kehendak Allah mengatasi segala-segalanya apabila pemberi hutang yang jarang turun ke sungai tiba-tiba muncul di situ dan mendapati ada sebatang kayu yang dihanyutkan tertulis namanya daripada pemiutang, beliau bersyukur kepada Allah atas pertolongan-Nya.

Walau bagaimanapun pemiutang masih dibelenggu keadaan sugul sama ada hutangnya sampai ataupun tidak, setelah jambatan itu dibaiki, pemberi hutang terus mencari pemiutang di kampung bersebelahan bagi mengkhabarkan berita baik itu, masing-masing gembira dan bersyukur kepada Allah kerana niat baik untuk menunaikan janji dikabulkan Allah.

Daripada kisah benar di atas, dapatlah disimpulkan bahawa menepati janji itu boleh dibahagikan kepada beberapa bahagian:

1-Menunaikan janji terhadap Allah

Ia lebih kepada janji seorang muslim itu untuk melaksanakan segala hukum Allah dalam al-Quran seperti hukum-hukum hudud, qisas, mendirikan solat, puasa, zakat, haji agar tidak dilabelkan Allah sebagai orang munafik.

2- Menunaikan janji terhadap Rasulullah

Iaitu berjanji untuk mengikut segala tunjuk ajar baginda, menghidupkan sunnah-sunnahnya bagi meraih tempat terbaik di sisi Nabi pada hari kiamat.

3- Menunaikan janji terhadap kedua ibu bapa

Untuk menjadi anak-anak yang solih semasa kehidupan keduanya ataupun selepas kematian mereka.

4- Menunaikan janji sesama manusia

Menepati waktu ketika berjanji dengan tidak melewatkan masa, kerana kelewatan masa akan menjejas kredibilitinya begitu juga dalam perkara berhutang, hendklah dia berniat untuk melunaskannya dan niatnya itu akan ditunaikan Allah.

5- Menunaikan janji pada diri sendiri

Berjanji untuk menjadi seorang hamba Allah yang baik, bukan sahaja sebagai seorang Islam, malah berusaha untuk meningkatkan diri untuk menjadi insan yang beriman dan seterusnya bertakwa kepada Allah dalam tingkah lakunya, ibadatnya, seluruh hidupnya, matinya adalah hanya untuk Allah SWT sahaja.


HARAPLAH SELAGI BERNAFAS.