Thursday, 17 August 2017

PEDOMAN HIDUP BAHAGIA



_Kadang - kadang SAHABAT yang suka belanja kita makan, bukan kerana mereka berharta tapi sebab mereka meletakkan persaudaraan melebihi wang ringgit......_
_Kadang - kadang SAHABAT yang rajin bekerja, bukan kerana mereka ingin tunjuk pandai dan hebat tapi sebab mereka memahami maksud tanggungjawab......._
_Kadang - kadang SAHABAT yang memohon maaf terlebih dahulu selepas pergaduhan atau selisih faham, bukan semestinya kerana mereka bersalah tapi sebab mereka menghargai PERSAHABATAN dan orang2 di sekeliling mereka......_
_Kadang - kadang yang sukarela membantu kita, bukan kerana mereka berhutang apa-apa tapi sebab mereka lihat kita sebagai seorang SAHABAT....._
_Kadang-kadang SAHABAT yang selalu_ *SMS DAN WATTSAPP KITA* _bukan kerana mereka tak ada benda lain nak buat tapi sebab mereka_ *SENTIASA MENGINGATI ANDA.......*
_Satu hari, kita semua akan terpisah, kita akan terkenangkan pelbagai perbualan dan impian yang kita ada._
_Hari berganti hari, bulan, tahun, hingga hubungan ini menjadi asing........_
_Satu hari anak2 kita akan jumpa gambar kita dan bertanya,_
_"Siapa mereka semua tu?"....._
_Dan kita tersenyum dengan air mata yang tidak kelihatan kerana hati ini terusik dengan kata yang sayu, lalu berkata,_
*"DENGAN MEREKALAH ANDA ADA HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP DAN MENGENALI ERTI PERSAHABATAN" ....*

*TERIMA KASIH SAHABAT2KU*

_Ada *3* Hal dlm hidup yg tidak boleh kembali :_ 


*1. Waktu*
*2. Kata-kata*
*3 . Kesempatan*

_Ada *3* Hal yg dapat menghancurkan hidup seseorg:_
*1. Kemarahan*
*2. Keangkuhan*
*3. Dendam*

_Ada *3* Hal yg tidak boleh hilang:_
*1. Harapan*
*2. Keikhlasan*
*3. Kejujuran*

_Ada *3* Hal yg plg berharga:_
*1. Kasih Sayang*
*2. Cinta*
*3. Kebaikan*

_Ada *3* Hal dlm hidup yg tidak pernah pasti :_
*1. Kekayaan*
*2. Kejayaan*
*3. Mimpi*

_Ada *3* Hal yg membentuk watak seseorg :_
*1. Komitmen*
*2. Ketulusan*
*3. Kerja keras*

_Ada *3* Hal yg membuat kita sukses :_
*1. Tekad*
*2. Kemahuan*
*3. Fokus*

_Ada *3* Hal yg tidak pernah kita tahu :_
*1. Rezeki*
*2. Umur*
*3. Jodoh* 


*TAPI,* _ada *3* Hal dalam hidup yg_ *PASTI https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/f75/1/16/1f618.png:*
*1. Tua*
*2. Sakit*
*3. Kematian.* 


*_YA TUHAN, INSAN YG MEMBACA INI ADALAH INSAN YG KUAT, SABAR, PENGASIH & PENYAYANG - MAKA SAYANGILAH DIA SERTA KASIHILAH DIA, BANTULAH DIA MENINGKATKAN TARAF KEHIDUPANNYA, MURAHKAN REZEKINYA, SIHATKAN TUBUH BADANNYA, JIKA DIA MELANGKAH, SELAMATKANLAH DIA, PERMUDAHKAN & LANCARKAN SEGALA PEKERJAANNYA.._*

Wednesday, 9 August 2017

PELITA HIDUP

Saudara saya yang dirahmati dan dikasihi oleh Allah Taala, semua,
Selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad Saw.

Bahawa......,

Menyelamat orang yang sedang menuju ke neraka Allah Taala adalah tanggungjawab setiap daripada kita.
Macam mana kita nak selamatkan saudara kita?
Pertama sekali berazam dan berusaha untuk menjadi soleh.
Setiap orang Islam sama ada lelaki atau perempuan mesti perbaiki diri masing-masing.

Sirah kenangan sikap buruk yang lalu janganlah dikenang. Pilihlah jalan taubat. Jangan ulang akan sekalian salah, dosa dan noda.
Allah Taala letakkan daya tarikan pada setiap amal kebaikan yang dilakukan oleh ummat Nabi Muhammad Saw.
Hari ini mengapa orang tidak minat kepada Islam ialah sebab kehidupan orang Islam kebanyakannya tak ubah seperti kehidupan orang kafir.

Mereka kerja untuk makan dan makan untuk kerja.
Ingatlah pesan Nabi Saw mafhumnya "Kamu bantu Allah, Allah akan bantu kamu. Kamu tunai segala perintah Allah, Allah tunaikan segala hajat kamu".

Haraplah selagi bernafas.

Akhikum Fillah,

Dr. Ahmad Kamal bin Ariffin

Wednesday, 26 July 2017

MALAYSIA DAN BENAK BTN



Kewajipan taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah karut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.
Tindak tanduk penguasa, kerjasama pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fizik.
Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.
Yang menyedihkan, Islam atau jihad justeru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma dapat tegak kembali di masa kini.
Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”. Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, namun kewajiban yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.

Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim

Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapa pun buruk dan zalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah ‘azza wa jalla juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.
Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla seperti keadaan orang-orang jahiliah.[1] (Lihat ucapan al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah rahimahullah, dia berkata, “Kami masuk ke rumah Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya, ‘Sampaikanlah hadits kepada kami—aslahakallah (semoga Allah ‘azza wa jalla memperbaiki keadaanmu)—dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengannya Allah ‘azza wa jalla akan memberikan manfaat bagi kami!’ 

 Maka ia pun berkata,
دَعَانَا رَسُوْلُ اللهِ فَبَايَعَنَاَ، فَكَاَنَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطاَّعَةِ، فِيْ مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرَا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara bai’atnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak—beliau berkata—kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hlm.192, cet. Maktabatur Riyadh al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut, cet. 1)


Wajib Taat Walaupun Jahat dan Zalim

Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak kejahatan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah ‘azza wa jalla dengan memberikan hak mereka, iaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُنَا؟
“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak, red.) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.”
Mereka (para sahabat, red.) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu… (disebutkan kejelekan-kejelekan).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا
‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’.” (Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam as-Sunnah dan lain-lain. Lihat al-Wardul Maqthuf, hlm. 32)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang masyhur.” (Majmu’ Fatawa juz 28, hlm. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyah Mesir)
Sedangkan menurut al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Kesimpulannya adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)

Tetap Taat Walaupun Cacat

Meskipun penguasa tersebut cacat secara fizik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya. Namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa—baik dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan—maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu mentaatinya (pada perkara tersebut) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata:
إِنَّ خَلِيْلِيْ أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَ أَطِيْعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ
“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat).[2] (Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut. HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hlm. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah rahimahullah, dia berkata, “Berkata kepadaku ‘Umar radhiallahu ‘anhu, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
Wallahu a’lam.